Kamis, 11 Agustus 2011

10 Hal yang Mendatangkan Cinta Allah

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an,...


Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Infaq sebagai pembuka rezeki

Sebagaimana telah difirmankan Allah diawal Surah Al-Baqarah bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa itu adalah mereka yang menafkahkan sebahagian dari rejeki yang telah dianugerahkan Allah swt kepadanya dan sudah tentu dijalan Allah. Sementara itu disurat lain Allah swt berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. “(QS. 34:39) dan bahkan dalam Surah Al-Hadid (57) ayat 11, Allah swt menyatakannya dengan kata “meminjamkan hartanya”, padahal sebenarnya “harta” yang kita punya tersebut adalah milikNya. Karena itu, jika Allah swt menghendaki dengan paksa Allah akan dapat mengambil semua harta yang kita punyai itu dalam sekejap. Tetapi… Allah swt tidak begitu, dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana dan Maha Pemberi Rejeki.

Maka terbuktilah apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw bahwa: “Carilah rejeki dengan berinfak”. Memang sekilas pernyataan ini aneh karena berinfak kan berarti mengeluarkan sesuatu dari yang kita punyai, khan bukannya bertambah… berkurang donk… Nach.. saudaraku logika seperti ini adalah sebenarnya logika sekuler alias logika syeitan. Karena logika ini berangkat dari pengertian bahwa dari ada menjadi tiada. Padahal jika dilihat dari kacamata iman seharusnya kita berangkat dari kita tidak mempunyai apa-apa (atau tiada), dan diberi oleh Allah swt rejeki atau menjadi ada, nach jika Allah swt minta sedikit untuk meratakannya dengan saudara-saudara kita yang lain wajar donk.. Justru lebih dari 2.5 persen yang diminta Allah swt itu sangat amatlah wajar.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan keistimewaan berinfak yang berkaitan dengan imbalan yang akan diberikan Allah swt, diantaranya yaitu: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(QS. 2:261). Begitu juga dengan penggalan ayat berikut: “...Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (QS. 57:7)

Maka dapat kita katakan disini bahwa merugilah orang-orang yang tidak mau menafkahkan sebahagian dari hartanya dijalan Allah. Dan juga patut kita ingat bahwa banyak juga kecaman-kecaman yang diingatkan Allah swt terhadap orang-orang yang bakhil, diantaranya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:180). Dan juga di ayat lain: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. 9:34)

Hikmah dibalik Musibah

kita di dunia ini hidup dengan penuh cobaan hidup. salah satunya merupakan cobaan melalui musibah.

oleh karena itu saya ingin memberikan sedikit ilmu tentang hikmah yang ada di balik musibah yang kita terima


Sebagai orang yang percaya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tetap memandang apapun gejala alam ini dengan kacamata Syari’ah. Sebab apapun yang terjadi tidak luput dari kehendak Allah SWT. Diantara hikmah yang bisa kita petik dibalik segala bencana ini antara lain...


Pertama, menjadi ujian kesabaran seorang mukmin, karena disaat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuk sangka atau bahkan menyalahkan dan mencaci maki Allah SWT, Allah SWT berfirman,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al Baqarah : 214).


Kedua, menjadi bukti betapa tidak berdayanya manusia dan begitu mahakuasanya Allah SWT, jangankan menangkis musibah, memprediksi kapan datangnya musibah secara valid manusia tidak sanggup.
Fir’aun menjadi sebegitu sombong dan congkaknya, dikarenakan sejak dia lahir sampai menjelang ajalnya, dia tidak pernah merasakan segala kesusahan hidup, kondisi ini lambat laun membuat Fir’aun merasakan betapa dia memang berhak berkuasa dan berlaku sombong, sampai-sampai pada akhirnya dia memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan,

“dan berkatalah Fir’aun:” Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. an Nazi’at : 24).


Ketiga, musibah datang untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seorang mukmin. Rasulullah bersabda,

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

Keempat, musibah juga menjadi salah satu cara Allah dalam mendidik dan menegur kesilapan dan dosa hamba-Nya. Allah berfirman,

”Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al An’am : 43).

Bahkan kepada para nabi dan rasul-Nya, Allah turunkan musibah agar mereka tidak terjebak pada sesuatu yang bisa melalaikan mereka dari cinta Allah. Nabi Yusuf Allah pisahkan dari ayahnya nabi Ya’qub. Karena dia mendapatkan cinta yang cukup besar dari bapaknya, nabi Ibrahim Allah perintahkan untuk menyembelih Ismail putra yang berpuluh-puluh tahun dinanti kehadirannya. Demikian pula Rasulullah, ditahun yang sama Allah wafatkan dua tokoh yang selama ini menjadi tulang punggung dakwah beliau. Maka di tahun wafatnya Khadijah istri beliau dan Abu Thalib sang paman disebut ‘amm alhazan (tahun duka cita). Semuanya agar rasul-Nya tak lena dengan bantuan dan cinta makhluk.
Wallahu a’lam.

Minggu, 07 Agustus 2011

Justice Voice (JV)

JUSTICE VOICE
Justice voice merupakan grup nasyid asal kota Yogyakarta yang di bentuk pada tanggal 25 Desember tahun xxxx.
grup nasyid inilah yang menjadi cikal bakal terciptanya berbagai grup nasyid di wilayah Jateng dan D.I.Y
grup ini merupakan salah satu grup nasyid yang palig populer di Indonesia.

mgkin itu dulu yang dapat saya berikan...............



berikut lagu-lagu yang populer dari grup nasyid justice voice (click to download) :

1. Abege
2. Jangan mepet-mepet
3. Rumus canggih
4. Ibunda
5. Problema
6. Pede aja lagi
7. Rindu Ramadhan
8. Senandung Rindu
9. Senyum dong fren
10. Ramadhan kembali

NASYID

Nasyid adalah salah satu seni Islam dalam bidang seni suara.Biasanya merupakan nyanyian yang bercorak Islam dan mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi, memuji Allah, dan yang sejenisnya. Biasanya nasyid dinyanyikan secara acappela dengan hanya diiringi gendang. Metode ini muncul karena banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali alat musik perkusi.





Nasyid berasal dari bahasa Arab yang berarti senandung. Kata ini mengalami penyempitan makna dari senandung secara umum, menjadi senandung yang bernafaskan Islam. Nasyid dipercaya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad.Syair thola'al badru 'alaina (yang artinya telah muncul rembulan di tengah kami)yang kini kerap dinyanyikan oleh tim qosidah dan majelis ta'lim, adalah syair yang dinyanyikan kaum muslimin saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW ketika pertama kali hijrah ke Madinah. Nasyid kemudian berkembang seiring dengan situasi dan kondisi saat itu. Misalnya nasyid di Timur Tengah yang banyak mengumandangkan pesan jihad maupun perlawanan terhadap imperialisme Israel lebih banyak dipengaruhi oleh situasi politik yang ada saat itu.

Nasyid mulai masuk ke Indonesia sekitar era tahun 80-an. Perkembangannya pada awalnya dipelopori oleh aktivis-aktivis kajian Islam yang mulai tumbuh di kampus-kampus pada masa itu. Pada awalnya yang dinyanyikan adalah syair-syair asli berbahasa Arab. Namun akhirnya berkembang dengan adanya nasyid berbahasa Indonesia dan dengan tema yang semakin luas (tidak hanya tema syahid dan jihad). Biasanya nasyid dinyanyikan dalam pernikahan, maupun perayaan hari besar umat Islam.


pada saat ini, terdapat beberapa grup nasyid yang sangat populer di kalangan masyarakat kita, beberapa di antaranya ialah :
1. Justice voice
2. Gradasi
3. Edcoustic
4. Fatih

dan masih banyak lagi tersebar di pelosok negeri ini.

Selasa, 10 Mei 2011

makna angka2 dalam Al-Quran

Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, keistimewaan yang tidak dimiliki Kitab Suci Agama lain sekaligus bukti bahwa Al Quran dibuat bukan tanpa perhitungan super teliti, seolah olah dengan itu Si Pembuat berusaha menyampaikan bahwa Al Quran Adalah Benar Dan Sempurna.
Jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.
Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pandang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul ‘ Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” beliau menulis beberapa tema-tema tersebut terjadi keharmonisan diantara jumlah kata-kata Al-Qur’an dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 114, keanehan yang ada diantaranya sbb :
Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali,
Kata “ma’siyah” dan derivatnya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan derivatnya juga disebutkan sebanyak 75 kali.
Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.
Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.
Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.
Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.
Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.
Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.
Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.
Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.
Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.
Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.
Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.
Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.
Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali
Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali
Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),
Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),
Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),
Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.
Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.
Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.
Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
Jumlah “ saah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu
Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.

Sabtu, 09 Oktober 2010

KEUTAMAAN DZULHIJJAH PART 2

6. Bulan yang tidak ada hari di dalamnya, Allôh lebih
banyak menyelamatkan hamba-Nya dari siksa neraka

عن عائشة – رضي الله عنها – قالت : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال
: (( ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبدًا من النار من يوم ))
Dari ‘A`isyah radhiyallâhu ‘anhâ beliau berkata :
Sesungguhnya Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam
bersabda : “Tidak ada hari yang lebih banyak Allôh
membebaskan hamba dari neraka selain pada hari ‘Arofah.”
(HR Muslim).
7. Bulan yang di dalamnya terdapat hari haji besar
Dari ‘Abdullâh bin ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, bahwa
Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam berwukuf pada hari
an-Nahar (hari penyembelihan/’îdul adhhâ) di antara
tempat melempar jumrah (baru kerikil) pada saat beliau
sedang berhaji, kemudian beliau berkata : “Hari apa
sekarang?” Para sahabat menjawab, “hari an-Nahar”. Lantas
Nabî bersabda : “Hari ini adalah hari haji besar.” (HR
Bukhârî).
8. Bulan yang di dalamnya terdapat hari yang paling agung
عن عبد الله بن قرط عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن أعظم الأيام عند
الله تبارك وتعالى يوم النحر،ثم يوم القر
Dari ‘Abdullâh bin Qorth dari Nabî Shallâllâhu alaihi wa
Sallam beliau berkata : “Sesungguhnya hari yang paling
agung di sisi Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ adalah hari an-Nahar
(‘îdul adhhâ) dan hari al-Qurr (sehari setelah ‘îdul adhhâ,
tanggap 11 Dzhul Hijjah).” (HR Ahmad).

Kamis, 07 Oktober 2010

KEUTAMAAN DZULHIJJAH

Banyak hadîts yang berbicara tentang keutaaman bulan Dzul
Hijjah, diantaranya adalah :

1. Bulan yang tidak memiliki kekurangan
عن أبي بكرة -رضي الله-عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:(( شهران لا
ينقصان ، شهرا عيد : رمضان وذو الحجة )) متفق عليه
Dari Abî Bakrah radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabî Shallâllâhu
‘alaihi wa Sallam beliau bersabda : “Dua bulan yang tidak
memiliki kekurangan, adalah bulan ‘îd Ramadhân dan Dzul
Hijjah.” (Muttafaq ‘alaihi).

2. Bulan disempurnakannya agama Islâm
Dari ‘Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu, bahwa
seorang Yahudi berkata kepada beliau, “Wahai Amîrul
Mu’minîn, ada satu ayat di dalam kitab kalian yang kalian
membacanya, sekiranya ayat tersebut turun pada Yahudi
niscaya akan kami jadikan hari ‘îd (perayaan) kami.” ‘Umar
bertanya, “Ayat yang manakah?” Yahudi itu berkata, “yaitu
ayat yang berbunyi, ‘Pada hari ini telah kusempurnakan
untuk kalian agama kalian dan aku cukupkan nikmat-Ku
kepada kalian serta Aku Ridhai Islam sebagai agama kalian.’
‘Umar radhiyallâhu ‘anhu berkata, “kami telah mengetahui
hari dan tempat diturunkannya ayat ini kepada Nabî
Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, dan beliau saat itu sedang
berdiri (berkhutbah) di ‘Arofah pada hari Jum’at.”
(Muttafaq ‘alaihi). Hari ‘Arofah adalah pada bulan Dzul
Hijjah.

3. Bulan yang di dalamnya ada sepuluh hari yang ibadah di
dalamnya lebih mulia daripada jihâd
عن ابن عباس – رضي الله عنهما- قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
(( ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر )) ، فقالوا :
يا رسول الله ! ولا الجهاد في سبيل الله ؟ . فقال رسول صلى الله عليه وسلم :
(( و لا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ، فلم يرجع من ذلك
بشيء ))
Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhuma beliau berkata,
Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak
ada hari-hari untuk beramal shâlih di dalamnya yang lebih
dicintai oleh Allôh melebihi daripada sepuluh hari ini.” Para
sahabat bertanya, “Wahai Rasūlullâh, tidak pula jihâd fî
sabîlillâh?”. Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam
menjawab, “Tidak pula jihâd fî sabîlillâh. Kecuali seorang
lelaki yang keluar jiwa dan hartanya (untuk berperang), dania tidak kembali membawa sesuatu apapun.” (HR Bukhârî).
Maksudnya sepuluh hari pada awal bulan Dzul Hijjah.

4. Bulan yang di dalamnya terdapat hari Arafah yang
apabila berpuasa pada hari tersebut, niscaya dosanya
setahun sebelumnya dan sesudahnya diampuni oleh Allôh
عن أبي قتادة – رضي الله عنه - : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :... ،
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكّفر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده...
Dari Abî Qotâdah radhiyallâhu ‘anhu, Rasūlullâh Shallâllâhu
‘alaihi wa Sallam bersanda : “Puasa Arafah, saya
mengharapkan kepada Allôh agar mengampuni dosa setahun
sebelumnya dan setahun setelahnya…” (HR Muslim)


5. Bulan yang di dalamnya terdapat hari ’ dul Adhhâ dan
hari Tasyrîk yang merupakan hari makan dan minum.
عن عقبة بن عامر – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
: (( يوم عرفة ، ويوم النحر ، وأيام التشريق ، عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل
وشرب
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :
Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Hari
‘Arofah, hari an-Nahr (‘îdul adhhâ) dan hari taysrîk,
merupakan ‘îd (perayaan) kami ummat Islâm, yaitu hari
makan dan minum.” (HR Muslim)

sementara itu dulu yang bisa saya sampaikan...lain kali Insyaallah akan saya sambung lagi...
 

About

Site Info

Text

Media Dakwah Islam dan Sarana Perekat Ukhuwah Copyright © 2009 Template is Designed by Islamic Wallpers